NU Penyangga Utama NKRI

0
28

DALAM sejarah bangsa ini, NU mempunyai peran besar dan jaringan yang luas. Untuk itu, saya berharap NU dengan jaringannya agar berperan aktif dalam meneguhkan NKRI ini.” Uraian ini adalah penggalan pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta pada tanggal 26 Januari 2017.

Apa yang disampakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X empat tahun lalu masih relevan untuk direfleksikan kembali di masa sekarang. Terlebih ketika NU akan merayakan Hari Ulang Tahun (Harlah) ke 95 yang menurut perhitungan tahun Masehi jatuh pada tanggal 31 Januari 2021. Adapun taglin Harlah NU tahun ini bertajuk “Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”.

Spirit Nasionalisme

Dalam hal ini, tagline Harlah NU ke-95 mendedahkan spirit nasionalisme yang menganggit dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi keislaman dan dimensi keindonesiaan. Dalam konteks keislaman, NU memposisikan diri sebagai identitas sosial kemusliman yang mengejawantahkan ajaran Islam yang dinafasi oleh ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Berbagai aliran yang ada Islam seperti fiqh, teologi, dan tasawuf disikapi dengan cara pandang yang netral dan tidak tendensius.

Selain itu, secara sosiologis, NU menggunakan epistemologi relasional ketika mempertemukan dua persoalan yang dihadapi. Satu sisi menjadikan kearifan lokal sebagai paradigma sosio-antropologis dalam menjalankan ajaran keislaman baik dalam peribadatan maupun muamalah. Di sisi lain, menjadikan perkembangan zaman dan berbagai kebaruan yang terjadi dalam kehidupan sebagai landasan untuk memperkuat ajaran keislaman yang sesuai dengan perubahan sosial.

Dengan paradigma keberislaman yang dinamis dan elastis, NU bisa mengakomodasi berbagai kalangan yang ingin menjalankan praktek keislaman yang sesuai dengan latar pengalaman hidupnya sambil menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip dasar yang ditegaskan dalam ajaran Islam.

Sedangkan, dalam konteks keindonesiaan, NU memposisikan diri sebagai identitas kewargaan yang inklusif yang sejak dahulu turut menggawangi dan menentukan nasib republik Indonesia. Bersama kelompok-kelompok lain yang saat itu memiliki kekuatan massa yang beragam, NU menghimpun mereka dalam satu ikatan batin kebangsaan yang bisa melampaui ego tribalisme untuk mempertegas identitas kewargaan yang inklusif yang harus berdiri kokoh di atas tanah air.

Dari tanah air yang kuat dan jelas, semua cita-cita untuk mewujudkan sebuah negara yang merdeka dibesutkan dalam semangat juang dan jibaku yang gigih. Dengan harapan, melalui tanah air yang di atasnya berdiri sebuah negara yang merdeka, tumpuan masa depan anak cucu bisa berlangsung dengan nyaman, damai, dan sentosa. Dan kini, apa yang kita rasakan dengan segala bentuk kedamaian dan kesentosaan di negara ini tak terlepas dari hasil perjuangan para founding fathers di mana NU menjadi bagian penting yang terlibat di dalamnya.

Modalitas Sosial

Dalam kaitan ini, kehadiran NU dalam membangun spirit nasionalisme tercermin dari berbagai narasi kebangsaan yang direpresentasikan dalam berbagai diktum. Dan di antara diktum yang sangat fenomenal sekaligus melegenda hingga saat ini adalah jargon “hubbul wathon minal iman”. Jargon ini adalah ungkapan KH. Hasyim Asy’ari yang dilandasi oleh kesadaran nasionalisme yang luhur yang bertujuan untuk menciptakan sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara yang satu di bawah naungan Indonesia. Bahkan, melalui jargon ini pula, persaudaraan berasas kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) ditempatkan sebagai dimensi kebatinan yang setara dengan persaudaraan berasas keislaman (ukhuwah islamiyah).

Kehadiran NU yang membingkai dimensi nasionalisme dengan dua lapisan yang saling bersinergi bahkan posisi keduanya berada dalam satu tarikan nafas menjadi modalitas sosial yang bisa menyanggah masa depan NKRI. Di mana, dengan modalitas sosial ini NU akan menjadi sebuah perekat kebangsaan yang mengedepankan toleransi (tasamuh), moderat (tawasuth), berkeadilan (ta’adul), dan berimbang (tawazun).(*)

Dr. H. Fathorrahman Ghufron. Wakil Katib PWNU Yogyakarta. Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here