Halal Bihalal ‘Produk’ Mbah Wahab

0
13

HALAL BIHALAL hanya ada di Indonesia. Meski istilah ini menggunakan bahasa Arab, namun orang Arab sendiri tidak mengenalnya. Di negeri gurun pasir sana juga tidak ada tradisi halal bihalal setiap Syawal atau usai puasa Ramadan.

Menurut Ketua Tanfidziyah PWNU DIY Prof Dr H Nizar Ali, halal bihalal merupakan ‘produk’ tokoh KH Wahab Hasbullah. Awalnya karena salah satu pendiri NU ini dimintai pendapatnya oleh Presiden Soekarno mengenai solusi mengatasi masalah politik saat itu.

“Waktu itu tahun 1948, Presiden Soekarno dihadapkan pada persoalan yang sangat mengganggu integrasi bangsa yang semakin memanas pasca pemberontakan DI/TI Karto Suwiryo dan Jawa Barat dan PKI di Madiun. Di tengah situasi pelik saat itu para elite politiki justru saling bertengkar, saling sikut menyikut, saling cela dan saling memaki. Mereka tidak mau duduk bersama dalam satu meja untuk mencari solusi bersama. Presiden Soekarno bingung mencari solusi untuk mengatasi keadaan ini. Kemudian beliau memanggil KH Wahab Hasbullah,” papar Prof Nizar pada Syawalan Warga NU DIY di Gedung PWNU DIY Jalan MT Haryono Yogya, Minggu (23/5).

Dijelaskan, waktu itu umat Islam sedang menjalankan puasa Ramadan. Kemudian Mbah Kyai Wahab mengusulkan agar pada momentum bulan syawal atau Idul Fitri nanti agar diadakan silaturrahmi sebagai ajang rekonsiliasi para politisi. Presiden Soekarno setuju dengan usulan ini, namun merasa tidak sreg dengan istilah silaturrahmi, karena istilah itu dianggap biasa-biasa saja. Selanjutnya Presiden minta Kyai Wahab mencari istilah khusus yang menjadi semacam trade merk dan dilaksanakan untuk bangsa dan negara. Akhirnya ditemukan istilah Halal Bihalal.

“Dalam pertemuan para politisi itu Mbah Kyai Wahab menyampaikan mau’idzoh hasanah. Beliau menjelaskan terkait hukum saling menyalahkan dalam Islam. Beliau menyebut itu dosa dan hukumnya haram. Agar para elite politik terlepas dari dosa/haram saling menyalahkan ini, maka di antara mereka harus dihalalkan. Dari kata haram dihalalkan. Caranya para elite politik harus duduk satu meja, berbicara satu sama saling, saling memaafkan dan saling menghalalkan. Lalu Kyai Wahab Hasbullah menyebut acara tersebut “tholabul halal bi thoriqin halal”, maksudnya mencari penyelesaian dan keharmonisan antara sesama dengan cara saling memaafkan dan menghalalkan. Dalam perkembangannya lantas hanya disebut Halal Bihalal,” paparnya. “Ini kontribusi besar dari Kyai Wahab Hasbullah,” tambahnya.

Katib ‘Aam PBNU KH Yahya C Tsaquf yang juga berbicara dalam forum ini juga menjelaskan, banyak Kyai NU yang mempunyai andil besar dalam memasukkan istilah atau kalimat Arab dalam pergaulan sehari-hari. Antara lain KH Ahmad Abdul Hamid Kendal mempopulerkan kalimat “Wa billahit taufiq wal hidayah” setiap mengakhiri sambutan atau pidato.

“Beliau (Kyai Ahmad Abdul Hamid) yang mempopulerkan pertama kali. Sebenarnya waktu itu kalimat tersebut akan dijadikan ciri khas mengakhiri sambutan dan pidato di kalangan NU. Namun saking populernya, ternyata lantas semua orang memakai kalimat ini saat mengakhiri pidato. Karena mudah melafalkannya. Semua orang bisa. Lantas beliau berpikir kok sudah tidak jadi ciri khas NU lagi. Lalu Beliau mencari kalimat lain yang dianggap sulit diucapkan oleh selain orang NU atau santri. Lantas muncul kalimat “wallahu muwaffiq ila aqwamith thoriq” dan hingga kini masih dipakai di kalangan NU dan menjadi ciri khas,” katanya sambil menambahkan kalau bukan santri sulit atau sering salah melafalkan kalimat tersebut sehingga maknanya jadi lain.

Namun Gus Yahya tidak sepakat kalau orang-orang NU ikut-ikutan menggunakan kata taushiyah atau wasiat kepada kyai yang akan memberi pengajian. “Taushiyah itu pantasnya diberikan orang yang mau mati. Itu karya orang lain. Masak kita ikut-ikutan. Berarti kalah virtual dari yang lain. Kita kan punya istilah mau’idhoh hasanah. Maka pakai saja istilah ini, ” pintanya. (Lutfi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here